TUGAS BIOKIMIA
MATERI IMUNOLOGI
LEUKEMIA
Disusun Oleh :
Diah
Ayu Sulistiyaningsih (14.0401)
Yani
Setyorini (14.0431)
AKADEMI FARMASI THERESIANA
SEMARANG
Darah
merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang
disebut plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh
dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai
bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai
penyakit (Syaifuddin, 2006).
Leukemia adalah kanker darah atau kanker sumsum tulang (tempat sel darah dihasilkan). Seseorang yang terkena leukemia menderta kelainan pada pemproduksian sel - sel darah, umumnya kelainan terjadi berkaitan dengan leukosit (sel darah putih) (Reeves, 2001).
Leukemia adalah kanker darah atau kanker sumsum tulang (tempat sel darah dihasilkan). Seseorang yang terkena leukemia menderta kelainan pada pemproduksian sel - sel darah, umumnya kelainan terjadi berkaitan dengan leukosit (sel darah putih) (Reeves, 2001).
Leukemia terjadi ketika sel darah putih abnormal
berkembang biak dengan cepat dan menyebar ke dalam aliran darah. Sel-sel Leukemia
mendesak sel-sel sehat, meninggalkan tubuh kekurangan oksigen, dengan sedikit
kekebalan terhadap penyakit atau infeksi dan tidak mampu menyumbat luka di
pembuluh kulit dan darah ( Suriadi & Yuliani, 2001).
2. Leukemia dikatakan Salah dalam Respon Imun
DNA pada sel darah yang belum matang, terutama sel darah putih, menjadi rusak. Kelainan ini menyebabkan sel - sel darah bertumbuh dan membelah tidak teratur. Umumnya sel darah normal mati setelah beberapa saat dan digantikan oleh sel baru yang diproduksi di sumsum tulang. Pada kasus Leukemia, sel - sel abnormal tidak mati semudah biasanya, dia menumpuk menempati lebih dan lebih banyak ruang. Karena semakin banyak ruang untuk sel - sel normal, sehingga penderita menjadi sakit. Sederhananya yakni sel - sel jahat mendesak keluar sel sehat dalam darah (Smeltzer, S C and Bare, 2002).
DNA pada sel darah yang belum matang, terutama sel darah putih, menjadi rusak. Kelainan ini menyebabkan sel - sel darah bertumbuh dan membelah tidak teratur. Umumnya sel darah normal mati setelah beberapa saat dan digantikan oleh sel baru yang diproduksi di sumsum tulang. Pada kasus Leukemia, sel - sel abnormal tidak mati semudah biasanya, dia menumpuk menempati lebih dan lebih banyak ruang. Karena semakin banyak ruang untuk sel - sel normal, sehingga penderita menjadi sakit. Sederhananya yakni sel - sel jahat mendesak keluar sel sehat dalam darah (Smeltzer, S C and Bare, 2002).
Perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel
pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam
sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini
keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi.
Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal
dan imunitas tubuh penderita (Smeltzer, S C and Bare, 2002). 3. Mekanisme Terjadinya Leukemia
Leukemia merupakan suatu bentuk keganasan atau maligna yang muncul dari
perbanyakan klonal sel-sel pembentuk sel darah yang tidak terkontrol. Mekanisme
kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan baik akibat adanya
perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab atas pengaturan pertubuhan
sel dan diferensiasi (Reeves 2001).
Sel-sel Leukemia menjalani waktu daur ulang yang lebih lambat dibandingkan
sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap dan lanbar
dan bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang normal. Blastosit
abnormal gagal berdiferensiasi menjadi bentuk dewasa, sementara proses
pembelahan berlangsung terus. Sel-sel ini mendesak komponen hemopoitik normal
sehingga terjadi kegagalan sumsum tulang. Disamping itu, sel-sel abnormal
melalui peredaran darah melakukan infiltrasi ke organ-organ tubuh (Betz, 2002).
4. Pengobatan Leukemia
Pengobatan pada Leukemia tentunya memiliki tahapan-tahapan yang harus
dilakukan. Tahap induksi bertujuan memusnahkan
sel kanker secara progresif. Tahap konsolidasi untuk memberantas sisa sel
kanker agar tercapai sembuh sempurna. Tahap pemeliharaan berguna untuk menjaga
agar tidak kambuh. Terapi yang biasa dilakukan antara lain pemberian
kemoterapi, radioterapi dan juga transplantasi sumsum tulang (Dipiro et al,
2005)
Terobosan terbaru adalah transplantasi
sel induk / sel tunas (stem cell). Inti dari
terapi ini adalah adanya stem cell (sel induk). Sel ini menjadi cikal bakal
sel-sel tubuh manusia, sebagaimana dijelaskan dalam teori dasar di atas. Dari
sisi fasenya ada 2 sel induk yang banyak digunakan dalam terapi stem cell,
yaitu Embryonic stem
cells (ESC) dan Adult stem cell (ASC). ESC diperoleh dari sel-sel pada
tahap blastosit (sekitar 5-7 hari setelah pembuahan), sedangkan ASC diambil
dari sumsum tulang, darah tepi dan darah tali pusat. Sebenarnya di setiap
bagian tubuh terdapat stem cell, namun dari ketiga tempat tersebut yang mudah
diperoleh stem cell. Kemampuan stem cell dalam hal berdiferensiasi ditentukan
oleh usia sel. Stem cell yang paling kuat dalam hal penggunaan terapi adalah
tipe ESC. Sel dalam tipe ini memiliki sifat totipotensi stem cell karena
menjadi cikal bakal baik janin (embrionik) maupun komponen pendukungnya seperti
plasenta (ekstra-embrionik) (Jusuf, 2009).
Aplikasi terapi stem cell untuk
leukemia dapat menggunakan sel hematopoietic melalui transplantasi sumsum
tulang belakang. Sel hematopoietic pada perkembangannya kemudian menjadi
berbagai jenis sel darah. Di bawah sel hematopoietik masih ada sel bersfiat
oligopotent misalnya sel mieloid yang membentuk sel darah merah, trombosit,
netrofil tetapi tidak membentuk limfosit yang termasuk kelompok non-mieloid.
Semula untuk keperluan tersebut, harus
dicari donor sumsum tulang dengan syarat ada kecocokan HLA (human leucocyte antigent). HLA terdiri dari 6 komponen, dan
antara donor dengan resipien harus sama persis. Untuk itu sering diperoleh dari
saudara kandung atau saudara kembar. Begitupun sering sulit didapatkan, di
samping kendala teknis terhadap pengambilan donor melalui operasi. Tipe
transplantasi dari donor tersebut disebut allogenik. Perkembangan selanjutnya
mengarah ke autolog dimana donor diusahakan dari diri pasien itu sendiri. Pada
kasus leukemia, diusahakan mendapatkan sel-sel sumum tulang yang masih sehat
dari penderita.
Sel-sel hematopoetic dari sum-sum
tulang belakang dibiakkan di laboratorium sambil pasien menjalani kemoterapi
dan radiasi untuk membersihkan sumsum tulang yang menderita kanker.
Selanjutnya, sel hasil biakan dimasukkan lagi ke pasien dan diharapkan menghasilan
sel-sel darah yang sehat (Sagar, 2007).
DAFTAR PUSTAKA
Betz,
Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik
Edisi 2. Jakarta, ECG
Dipiro,
J.T., R.L Talbert, G.C. Yee, B.G. Wells, and L. M. Posey. 2005. Pharmacotherapy:A Pathophysiologic Approach.
SixthEdition. McGraw-Hill Companies Inc.: United Stated on America.
Jusuf, A. A. 2009. Sel Punca (Stemcell) dan Perannya di Masa Depan. Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta
Reeves,
Lockart. 2002. Keperawatan Medical Bedah
Cetakan 1.Jakarta, Salemba Raya
Sagar.
J. Et al. 2007. Role of Stem Cells In
Cancer Therapy And Cancer Stem Cells : A Review. Cancer Cell International
Bio Med Central Ltd.London. U.K
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi
untuk Mahasiswa Keperawatan. EGC. Jakarta
Suriadi,
Yuliani R., 2001. Asuhan Keperawatan pada
Anak Edisi I. Jakarta , CV. Sagung Seto.
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth. Alih
bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar