Selasa, 29 Desember 2015

"Leukemia" ...??




TUGAS BIOKIMIA
MATERI IMUNOLOGI
LEUKEMIA




         Disusun Oleh :
           Diah Ayu Sulistiyaningsih      (14.0401)
           Yani Setyorini                         (14.0431)




AKADEMI FARMASI THERESIANA
SEMARANG
2015



1. Definisi Leukemia 
  Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit (Syaifuddin, 2006).
  Leukemia adalah kanker darah atau kanker sumsum tulang (tempat sel darah dihasilkan). Seseorang yang terkena leukemia menderta kelainan pada pemproduksian sel - sel darah, umumnya kelainan terjadi berkaitan dengan leukosit (sel darah putih) (Reeves, 2001).
 Leukemia terjadi ketika sel darah putih abnormal berkembang biak dengan cepat dan menyebar ke dalam aliran darah. Sel-sel Leukemia mendesak sel-sel sehat, meninggalkan tubuh kekurangan oksigen, dengan sedikit kekebalan terhadap penyakit atau infeksi dan tidak mampu menyumbat luka di pembuluh kulit dan darah ( Suriadi & Yuliani, 2001).


 2. Leukemia dikatakan Salah dalam Respon Imun
         DNA pada sel darah yang belum matang, terutama sel darah putih, menjadi rusak. Kelainan ini menyebabkan sel - sel darah bertumbuh dan membelah tidak teratur. Umumnya sel darah normal mati setelah beberapa saat dan digantikan oleh sel baru yang diproduksi di sumsum tulang. Pada kasus Leukemia, sel - sel abnormal tidak mati semudah biasanya, dia menumpuk menempati lebih dan lebih banyak ruang. Karena semakin banyak ruang untuk sel - sel normal, sehingga penderita menjadi sakit. Sederhananya yakni sel - sel jahat mendesak keluar sel sehat dalam darah (Smeltzer, S C and Bare, 2002).

Perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita (Smeltzer, S C and Bare, 2002).                                                                                                                                                                             3. Mekanisme Terjadinya Leukemia 
Leukemia merupakan suatu bentuk keganasan atau maligna yang muncul dari perbanyakan klonal sel-sel pembentuk sel darah yang tidak terkontrol. Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan baik akibat adanya perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab atas pengaturan pertubuhan sel dan diferensiasi (Reeves 2001).
Sel-sel Leukemia menjalani waktu daur ulang yang lebih lambat dibandingkan sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap dan lanbar dan bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang normal. Blastosit abnormal gagal berdiferensiasi menjadi bentuk dewasa, sementara proses pembelahan berlangsung terus. Sel-sel ini mendesak komponen hemopoitik normal sehingga terjadi kegagalan sumsum tulang. Disamping itu, sel-sel abnormal melalui peredaran darah melakukan infiltrasi ke organ-organ tubuh (Betz, 2002).
 
   4.      Pengobatan Leukemia
Pengobatan pada Leukemia tentunya memiliki tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Tahap induksi bertujuan memusnahkan sel kanker secara progresif. Tahap konsolidasi untuk memberantas sisa sel kanker agar tercapai sembuh sempurna. Tahap pemeliharaan berguna untuk menjaga agar tidak kambuh. Terapi yang biasa dilakukan antara lain pemberian kemoterapi, radioterapi dan juga transplantasi sumsum tulang (Dipiro et al, 2005)
Terobosan terbaru adalah transplantasi sel induk / sel tunas (stem cell). Inti dari terapi ini adalah adanya stem cell (sel induk). Sel ini menjadi cikal bakal sel-sel tubuh manusia, sebagaimana dijelaskan dalam teori dasar di atas. Dari sisi fasenya ada 2 sel induk yang banyak digunakan dalam terapi stem cell, yaitu  Embryonic stem cells (ESC) dan Adult stem cell (ASC). ESC diperoleh dari sel-sel pada tahap blastosit (sekitar 5-7 hari setelah pembuahan), sedangkan ASC diambil dari sumsum tulang, darah tepi dan darah tali pusat. Sebenarnya di setiap bagian tubuh terdapat stem cell, namun dari ketiga tempat tersebut yang mudah diperoleh stem cell. Kemampuan stem cell dalam hal berdiferensiasi ditentukan oleh usia sel. Stem cell yang paling kuat dalam hal penggunaan terapi adalah tipe ESC. Sel dalam tipe ini memiliki sifat totipotensi stem cell karena menjadi cikal bakal baik janin (embrionik) maupun komponen pendukungnya seperti plasenta (ekstra-embrionik) (Jusuf, 2009).
Aplikasi terapi stem cell untuk leukemia dapat menggunakan sel hematopoietic melalui transplantasi sumsum tulang belakang. Sel hematopoietic pada perkembangannya kemudian menjadi berbagai jenis sel darah. Di bawah sel hematopoietik masih ada sel bersfiat oligopotent misalnya sel mieloid yang membentuk sel darah merah, trombosit, netrofil tetapi tidak membentuk limfosit yang termasuk kelompok non-mieloid.
Semula untuk keperluan tersebut, harus dicari donor sumsum tulang dengan syarat ada kecocokan HLA (human leucocyte antigent). HLA terdiri dari 6 komponen, dan antara donor dengan resipien harus sama persis. Untuk itu sering diperoleh dari saudara kandung atau saudara kembar. Begitupun sering sulit didapatkan, di samping kendala teknis terhadap pengambilan donor melalui operasi. Tipe transplantasi dari donor tersebut disebut allogenik. Perkembangan selanjutnya mengarah ke autolog dimana donor diusahakan dari diri pasien itu sendiri. Pada kasus leukemia, diusahakan mendapatkan sel-sel sumum tulang yang masih sehat dari penderita.
Sel-sel hematopoetic dari sum-sum tulang belakang dibiakkan di laboratorium sambil pasien menjalani kemoterapi dan radiasi untuk membersihkan sumsum tulang yang menderita kanker. Selanjutnya, sel hasil biakan dimasukkan lagi ke pasien dan diharapkan menghasilan sel-sel darah yang sehat (Sagar, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik Edisi 2. Jakarta, ECG
Dipiro, J.T., R.L Talbert, G.C. Yee, B.G. Wells, and L. M. Posey. 2005. Pharmacotherapy:A Pathophysiologic Approach. SixthEdition. McGraw-Hill Companies Inc.: United Stated on America.
Jusuf, A. A. 2009. Sel Punca (Stemcell) dan Perannya di Masa Depan. Bagian Histologi  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
Reeves, Lockart. 2002. Keperawatan Medical Bedah Cetakan 1.Jakarta, Salemba Raya
Sagar. J. Et al. 2007. Role of Stem Cells In Cancer Therapy And Cancer Stem Cells : A Review. Cancer Cell International Bio Med Central Ltd.London. U.K
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. EGC. Jakarta
Suriadi, Yuliani R., 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak Edisi I. Jakarta , CV. Sagung Seto.
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar